PSN Steel Demand: The 100 Million Ton Vision for 2045

PSN Steel Demand: The 100 Million Ton Vision for 2045 — Indonesian steel industry
A representation of construction at IKN — National Strategic Projects (PSN), including the 3-million-house program and IKN, are driving a structural shift in steel demand that requires a 7-fold increase in production by 2045.

IKN, program 3 juta rumah, 44 kawasan industri baru, dan jaringan tol Trans-Jawa yang terus memanjang — semua proyek ini memiliki satu kebutuhan yang sama: baja. Akbar Johan, CEO Krakatau Steel, menyampaikan proyeksi yang mengejutkan namun logis: Indonesia akan membutuhkan 100 juta ton baja pada 2045. Dibandingkan konsumsi nasional saat ini yang berkisar 14–16 juta ton per tahun, angka itu berarti peningkatan tujuh kali lipat dalam dua dekade — sebuah target yang membutuhkan transformasi struktural di seluruh ekosistem industri baja nasional.

Yang lebih mendesak adalah gambaran jangka pendek: kebutuhan PSN pada tahun depan saja diperkirakan mencapai 21 juta ton. Sementara kapasitas produksi domestik saat ini masih jauh dari angka tersebut, celah ini adalah peluang dan ancaman sekaligus — peluang bagi produsen yang siap, ancaman bagi supply chain yang tidak bergerak cukup cepat.

IKN dan PSN: Berapa Banyak Baja yang Dibutuhkan

Ibu Kota Nusantara (IKN) adalah proyek infrastruktur terbesar dalam sejarah modern Indonesia. Setiap fase pembangunan membutuhkan sekitar 1 juta ton baja — dari baja tulangan (rebar) untuk fondasi gedung pemerintahan, baja struktural untuk jembatan dan jalan layang, hingga baja khusus untuk instalasi utilitas bawah tanah.

Komitmen TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) yang diwajibkan dalam proyek-proyek PSN secara teori mengutamakan pasokan dari produsen domestik. Namun implementasi di lapangan masih menghadapi tantangan: tidak semua spesifikasi produk yang dibutuhkan tersedia dari produsen lokal, dan bottleneck logistik dari pabrik baja di Cilegon ke lokasi pembangunan di Kalimantan menambah biaya dan waktu yang tidak sedikit.

“Kebutuhan kita sebetulnya setahun itu… next year ya kita butuhkan bahkan mungkin 100 tahun e di 2045 kita butuh 100 juta ton.”

— Akbar Johan, CEO, PT Krakatau Steel, Indonesia Business Post

Pernyataan Akbar Johan ini bukan sekadar proyeksi korporat — ia adalah argumen kebijakan yang ditujukan kepada pemerintah dan investor: jika Indonesia serius ingin memenuhi kebutuhan bajanya sendiri pada 2045, investasi dalam kapasitas produksi harus dimulai sekarang, bukan ketika permintaan sudah tiba.

Indonesian steel industry operations — PSN Steel Demand: The 100 Million Ton Vision for 2045
An interpretation of steel manufacturing operations in Indonesia — industrial scene.

Program 3 Juta Rumah: Pilar Permintaan Baja Berikutnya

Di luar megaproyek IKN, program 3 juta rumah per tahun yang menjadi prioritas pemerintahan Prabowo adalah katalis permintaan baja yang lebih merata secara geografis dan lebih berkelanjutan secara jangka panjang. Satu unit rumah sederhana tipe 36 membutuhkan sekitar 1–2 ton baja dalam berbagai bentuk — rebar, baja ringan untuk rangka atap, pipa, dan komponen struktural lainnya.

Jika program ini berjalan sesuai target, kebutuhan baja dari sektor perumahan saja bisa mencapai 3–6 juta ton per tahun — sebuah permintaan dasar yang konsisten dan dapat diprediksi, berbeda dari permintaan megaproyek yang bersifat episodik. Namun terdapat variabel kritis: kenaikan biaya material sebesar 30% yang diproyeksikan akan menekan keterjangkauan program, terutama bagi kontraktor skala menengah yang memiliki akses modal terbatas.

Menurut IMARC Group, pasar baja Indonesia diproyeksikan tumbuh signifikan sepanjang dekade ini, dengan sektor konstruksi sebagai pendorong utama. Data Gunung Raja Paksi juga mengonfirmasi bahwa tekanan impor tetap menjadi tantangan utama yang perlu diatasi agar pertumbuhan permintaan domestik benar-benar menguntungkan produsen lokal.

44 Kawasan Industri Baru dan Lompatan 12,9%

Di luar konstruksi fisik, pertumbuhan industri manufaktur yang dipacu oleh 44 kawasan industri baru yang sedang dikembangkan di luar Jawa juga akan menjadi sumber permintaan baja yang struktural. Kawasan-kawasan ini membutuhkan infrastruktur baja untuk pabrik, gudang, fasilitas utilitas, dan koneksi transportasi.

“Pertumbuhan di sektor ini itu gila-gilaan tumbuh sampai 12,9% kalau kalian masih ngetem di Jawa… kalian bakalan kehilangan kue terbesar.”

— Narator, SMS Perkasa YouTube

Proyeksi pertumbuhan sektor konstruksi sebesar 12,9% ini menempatkan Indonesia dalam kelompok pasar dengan momentum terkuat di Asia Tenggara — jauh melampaui rata-rata regional. Bagi kontraktor dan pemasok material yang masih terkonsentrasi di Jawa, pesan yang disampaikan dalam kutipan di atas sangat jelas: peluang terbesar kini ada di luar pulau yang selama ini menjadi pusat gravitasi industri.

Diversifikasi geografis ini membutuhkan adaptasi rantai pasok baja yang tidak trivial. Distribusi ke lokasi-lokasi di Kalimantan, Sulawesi, dan Papua memerlukan jaringan logistik yang lebih kuat, stok buffer yang lebih besar di gudang regional, dan kemampuan teknis untuk menangani spesifikasi proyek yang beragam.

Dari Visi 2045 ke Eksekusi 2026

Jarak antara visi 100 juta ton dan realita produksi saat ini memerlukan perencanaan yang sangat spesifik. Beberapa langkah kritis yang perlu diambil dalam 12–24 bulan ke depan antara lain: percepatan izin kapasitas produksi baru, penguatan infrastruktur logistik baja ke luar Jawa, peningkatan sertifikasi produk untuk memenuhi spesifikasi proyek strategis, dan pembangunan ekosistem pemasok komponen baja hilir yang terintegrasi.

Nippon Steel, sebagai mitra strategis Krakatau Steel, telah menyampaikan komitmennya untuk mendukung pengembangan kapasitas produksi Indonesia dalam laporan investor 2025 mereka. Dukungan teknis dari mitra global ini, dikombinasikan dengan kapasitas finansial Danantara, seharusnya memberikan fondasi yang kokoh untuk akselerasi yang dibutuhkan.

Visi 100 juta ton pada 2045 hanya akan terwujud jika fondasi yang dibangun pada 2026 cukup kuat — dan cukup cepat. Pasar baja Indonesia tidak akan menunggu siapa pun yang masih menimbang-nimbang di pinggir lapangan.

PSN Steel Demand: The 100 Million Ton Vision for 2045 — Indonesian steel industry
A representation of construction at IKN — National Strategic Projects are driving a structural shift in Indonesia’s steel demand.

Similar Posts